Langsung ke konten
AI Tech

AI Makin Canggih, Pakar AS Ingatkan Bahaya Kloning Suara dan Penipuan Digital

Pakar AI AS Maxwell Scott menyoroti ancaman kejahatan siber berbasis AI dan pentingnya menjaga kualitas serta integritas media.

gusti Diperbarui
Pakar dan Penasihat Tata Kelola AI asal Amerika Serikat, Maxwell Scott dalam diskusi “AI and Emerging Technology” yang digelar bersama Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Kalimantan Timur dan Kedutaan Besar Amerika Serikat (Dok: KabarIndonesia).
Pakar dan Penasihat Tata Kelola AI asal Amerika Serikat, Maxwell Scott dalam diskusi “AI and Emerging Technology” yang digelar bersama Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Kalimantan Timur dan Kedutaan Besar Amerika Serikat (Dok: KabarIndonesia).

KABARINDONESIA.ID -- Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tak hanya mengubah cara kerja industri media, tetapi juga membuka ruang baru bagi kejahatan siber.

Pakar dan Penasihat Tata Kelola AI (AI Governance) asal Amerika Serikat, Maxwell Scott, mengingatkan masyarakat dan perusahaan media agar tidak mengabaikan aspek keamanan, etika, serta integritas di tengah semakin canggihnya teknologi AI.

Hal itu disampaikan Maxwell dalam diskusi Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Kalimantan Timur bersama Kedutaan Besar Amerika Serikat bertajuk “Perkembangan Teknologi AI dan Dampaknya terhadap Trust dan Integritas Media” di Hotel Grand Tiga Mustika, Balikpapan, Jumat (18/9/2026).

Menurut Maxwell, tantangan utama media di tengah banjir informasi bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan berita sebanyak mungkin. Media justru dituntut menjaga kualitas dan integritas setiap informasi yang disampaikan kepada publik.

Ia menilai kepercayaan masyarakat menjadi semakin penting ketika teknologi AI mampu menghasilkan berbagai bentuk konten dalam waktu singkat.

“Media siber tidak lagi hanya dituntut mengejar kuantitas. Yang jauh lebih penting adalah menjaga kualitas dan integritas karya jurnalistik,” ujar Maxwell dalam diskusi tersebut.

AI Makin Canggih, Penipuan Suara Jadi Ancaman

Maxwell juga menyoroti potensi penyalahgunaan AI untuk kejahatan siber. Salah satu yang menjadi perhatian ialah voice cloning atau teknologi pemalsuan suara yang dapat digunakan untuk meniru identitas seseorang.

Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan pelaku untuk menjalankan modus penipuan dengan mengatasnamakan pihak tertentu. Risiko serupa juga muncul dalam pencurian identitas dan berbagai bentuk manipulasi komunikasi digital.

Menurut Maxwell, masyarakat sebenarnya sudah mengenal pola penipuan semacam itu. Namun, AI membuat modus lama menjadi lebih sulit dikenali karena dapat menghasilkan suara maupun konten yang semakin menyerupai sumber aslinya.

Karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan mengklik tautan dari sumber yang tidak dikenal. Warga juga diminta berhati-hati ketika menerima telepon maupun pesan SMS atau WhatsApp dari nomor yang tidak dikenal.

Langkah sederhana tersebut dinilai penting sebagai perlindungan awal sebelum masyarakat terjebak dalam modus penipuan berbasis teknologi.

AS dan Indonesia Hadapi Tantangan Adopsi AI

Dalam diskusi tersebut, Maxwell juga memaparkan perkembangan adopsi AI di Amerika Serikat.

Menurut dia, dinamika yang dihadapi dunia industri di AS memiliki sejumlah kesamaan dengan Indonesia. Salah satu perbedaan yang menonjol adalah struktur biaya tenaga kerja.

Tingginya labor cost di Amerika Serikat mendorong berbagai sektor bisnis mengembangkan otomatisasi untuk menggantikan sejumlah pekerjaan tertentu.

Pada saat yang sama, perusahaan di AS juga semakin mendorong pemanfaatan AI sebagai bagian dari pengembangan ekosistem bisnis, termasuk dalam pengelolaan perusahaan media dan newsroom.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak lagi hanya dipandang sebagai perangkat tambahan, tetapi mulai menjadi bagian dari transformasi proses kerja.

Meski demikian, pemanfaatan teknologi tetap membutuhkan batasan yang jelas agar efisiensi tidak mengorbankan kualitas, etika, dan tanggung jawab manusia.

Tata Kelola AI Dinilai Jadi Kunci

Maxwell mengatakan perkembangan AI yang sangat cepat juga memunculkan kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang teknologi tersebut.

Sejumlah kekhawatiran ekstrem dari kalangan pakar global, kata dia, muncul karena perkembangan AI berpotensi menghadirkan risiko besar apabila tidak diimbangi dengan tata kelola dan regulasi yang memadai.

Karena itu, AI governance menjadi salah satu aspek penting dalam memastikan perkembangan teknologi tetap berada dalam koridor yang dapat dikendalikan.

“Tata kelola dan kesadaran etis menjadi kunci agar AI tetap menjadi alat bantu yang mendukung kemanusiaan dan media yang terpercaya, bukan sebaliknya,” jelasnya.

Bagi industri media, perkembangan AI juga menuntut adanya keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan tanggung jawab jurnalistik.

AI dapat membantu mempercepat sejumlah pekerjaan di ruang redaksi. Namun, proses verifikasi, penilaian editorial, akurasi informasi, dan tanggung jawab terhadap publik tetap membutuhkan peran manusia.

Kabar Indonesia Ikuti Perkembangan AI di Kedubes AS

Perkembangan teknologi AI dan dampaknya terhadap industri media juga menjadi perhatian Kabar Indonesia.

Direktur Regional Kabar Indonesia, Damar Juniarto, sebelumnya turut mengikuti kegiatan “AI and Emerging Technology” Discussion yang berlangsung di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta pada 15 September 2026.

Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengikuti perkembangan teknologi AI sekaligus memahami berbagai tantangan yang muncul bagi industri media.

Perkembangan AI pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai kecanggihan teknologi. Bagi media, isu yang sama pentingnya adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab tanpa mengikis kepercayaan publik.

Di tengah kemampuan AI yang semakin cepat menghasilkan teks, suara, gambar, dan informasi, media justru dituntut semakin kuat dalam melakukan verifikasi serta menjaga integritas jurnalistik.

Dengan demikian, tantangan terbesar bukan sekadar apakah media mampu menggunakan AI, tetapi bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan tanpa mengorbankan prinsip dasar jurnalistik dan keamanan masyarakat.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua