KABARINDONESIA.ID -- Kolaborasi Riset dan Inovasi Kecerdasan Artifisial (KORIKA) bersama AI Singapore (AISG) meluncurkan Project NUSA (Network for Unified, Secure AI) untuk mempercepat pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang aman dan terpercaya. Inisiatif ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas industri, menarik investasi, serta membuka peluang lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi baru.
Project NUSA mempertemukan pelaku industri, perusahaan teknologi, dan institusi pendidikan dari Indonesia maupun Singapura dalam pengembangan teknologi AI yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto menilai pemanfaatan AI berpotensi memberikan kontribusi terhadap perekonomian. Namun, penerapannya secara luas membutuhkan kepercayaan, terutama dalam aspek keamanan, tata kelola, dan keandalan teknologi.
“AI harus mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, pemanfaatan AI secara luas membutuhkan kepercayaan. Melalui Project NUSA, KORIKA dan ekosistem AI Indonesia bersama AI Singapore berupaya membangun fondasi AI yang terpercaya melalui tata kelola yang kuat serta pengetahuan yang relevan dan dapat diandalkan," ujar Airlangga, dikutip Sabtu (24/10/2026).
Kami berharap Project NUSA dapat menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi berbasis AI yang menghadirkan layanan lebih baik, lebih banyak lapangan kerja, dan sumber pendapatan baru, sekaligus mendukung visi Indonesia Emas 2045,” lanjutnya.
Project NUSA Kembangkan Dua Fondasi Utama AI
Project NUSA dibangun melalui dua fondasi utama, yakni Open-Source AI Governance dan Open Data and AI-Ready Knowledge.
Open-Source AI Governance berfokus pada pengembangan sistem tata kelola AI yang aman dan bertanggung jawab. Cakupannya meliputi pengaturan akses, pengawasan aktivitas agen AI, hingga mekanisme akuntabilitas dalam penggunaan teknologi tersebut.
Sementara itu, Open Data and AI-Ready Knowledge diarahkan untuk mengolah data yang secara hukum dapat dibagikan menjadi sumber pengetahuan yang dapat digunakan sistem AI.
Pendekatan ini memungkinkan teknologi AI memahami bahasa, regulasi, serta konteks lokal dengan lebih baik, sehingga hasil penerapannya diharapkan semakin relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Kedua fondasi tersebut juga dirancang agar perusahaan dan institusi dapat mengembangkan solusi AI tanpa harus membangun seluruh infrastruktur dan komponen teknologi dari awal.
Ketua Umum KORIKA, Prof. Dr. Hammam Riza, menjelaskan kolaborasi tersebut menjadi upaya untuk menghubungkan strategi nasional AI dengan penerapan teknologi di berbagai sektor.
“Strategi nasional AI perlu didukung kolaborasi dan pondasi teknologi yang memungkinkan pemanfaatannya secara nyata. Melalui Project NUSA, kami ingin mempertemukan kemampuan riset, inovasi teknologi, dan kebutuhan industri untuk mengembangkan AI yang aman, terpercaya, serta memahami konteks lokal. Dengan pondasi yang dapat digunakan bersama, kami berharap inovasi dapat berkembang lebih cepat dan membuka peluang ekonomi baru,” ujar Prof. Dr. Hammam.
Libatkan 20 Mitra Industri dan Pendidikan
Pada tahap awal pengembangannya, Project NUSA melibatkan 20 pihak dari sektor teknologi, industri, layanan keuangan, dan pendidikan.
Mitra yang tercantum dalam ekosistem tersebut meliputi 6Estates, AI Safety Institute Indonesia (AISII), Astra Graphia Information Technology (AGIT), Amazon Web Services (AWS), BCA, BINUS, CATAPA, Datasaur, EY Indonesia, dan GDP Venture.
Selain itu, terdapat Institut Teknologi Bandung (ITB), ParagonCorp, Sime dari Malaysia, Sinarmas Financial, Solutionlabs, SQE, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Xecura, dan Xignature.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan kemampuan riset, pengembangan teknologi, serta sumber daya manusia di bidang AI.
Melalui kolaborasi ini, Project NUSA menargetkan pengembangan solusi yang dapat meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat pelayanan, mendukung pengambilan keputusan, serta menghasilkan produk dan layanan baru.
Meski demikian, penerapan AI tetap diarahkan untuk memperhatikan keamanan data, kepatuhan terhadap regulasi, dan pengawasan manusia, khususnya dalam pengambilan keputusan yang memiliki risiko tinggi.
Kolaborasi AI Indonesia-Singapura Bidik Pasar Global
Deputy Director of AI Products AI Singapore, Dr. William Tjhi, menilai kerja sama tersebut dapat memperkuat kemampuan pengembangan teknologi AI di kedua negara.
Menurutnya, keberhasilan penerapan AI membutuhkan tata kelola yang dapat dipercaya, sumber pengetahuan yang relevan, dan dukungan kolaborasi lintas sektor.
“Pengembangan AI yang memberikan manfaat nyata membutuhkan tata kelola yang terpercaya, pengetahuan yang relevan, serta kolaborasi yang kuat. Melalui Project NUSA, kami ingin mendukung implementasi strategi nasional AI masing-masing negara melalui pengembangan fondasi bersama yang dapat dimanfaatkan berbagai organisasi. Kami berharap kerjasama ini dapat mempercepat inovasi, memperkuat talenta lokal, serta membuka peluang ekonomi di pasar regional dan global,” ujar Dr. William.
Pada tahap awal, Project NUSA akan memprioritaskan pengembangan solusi AI praktis di Indonesia dan Singapura sekaligus mengukur manfaat ekonomi yang dihasilkan.
Solusi yang menunjukkan hasil positif selanjutnya berpotensi dikembangkan untuk menjangkau pasar Asia Tenggara hingga tingkat global.
KORIKA dan AI Singapore berharap kolaborasi tersebut dapat mempercepat penerapan strategi nasional kecerdasan artifisial masing-masing negara, memperkuat daya saing industri, dan mendorong terbentuknya sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Bagi Indonesia, pengembangan Project NUSA juga diharapkan mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045 melalui pemanfaatan teknologi yang produktif, aman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.