BMKG Diperintahkan  Beli Alat  Early Warning System Bencana

Sponsor Kabar Peristiwa - Terbit 26 12 2018 - 03:17 BMKG Diperintahkan  Beli Alat  Early Warning System Bencana
Presiden saat mengunjungi Rumah sakit lapangan batalyon kesehatan I Marinir Cilandak di Labuan, Senin (24/12) pukul 10.28 WIB. (Foto: BPMI)

Pola bencana tsunami di Selat Sunda terjadi yang di luar perkiraan BMKG (Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika) membuat masyarakat tidak memiliki kesiapan untuk menyelamatkan diri. Biasanya peringatan akan potensi terjadinya tsunami dapat dikeluarkan dengan terlebih dahulu menganalisis secara cepat data gempa yang sebelumnya terjadi. 

Namun, tidak demikian halnya kali ini yang tanpa didahului oleh peristiwa gempa. “Saya sudah perintahkan juga ke BMKG untuk membeli alat-alat early warning system yang bisa memberikan peringatan-peringatan secara dini kepada kita semua sehingga masyarakat bisa waspada,” kata Presiden Jokowi kepada wartawan di sela-sela peninjauannya ke beberapa lokasi terdampak bencana tsunami, di Pandeglang, Banten, Minggu, 24 Desember 2018. 

Mengenai banyaknya jumlah korban yang ditimbulkan dari bencana tsunami di Selat Sunda, Sabtu (22/12) malam, Presiden Jokowi mengaku telah menginstruksikan jajaran terkait untuk memasukkan pendidikan kebencanaan dalam kurikulum pendidikan. 

Upaya ini dilakukan agar masyarakat mendapatkan pengetahuan sejak dini terkait kebencanaan sehingga dapat meminimalisir jumlah korban.

“Sudah saya perintahkan (memasukkan pendidikan kebencanaan ke kurikulum),” sambung Presiden.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kementerian ESDM,  menyebutkan, tsunami yang terjadi pada Sabtu (22/12) malam kemungkinan besar dipicu oleh longsoran atau jatuhnya sebagian tubuh dan material Gunung Anak Krakatau (flank collapse) khususnya di sektor selatan dan barat daya.

“Masih diperlukan data tambahan dan analisis lebih lanjut untuk mengetahui apakah ada faktor lain yang berperan,” tulis siaran pers itu.

Menurut PVMBG, tsunami yang terjadi adalah kasus yang spesial dan jarang terjadi di dunia, serta masih sangat sulit untuk memperkirakan kejadian partial collapse pada suatu gunungapi.

Untuk itu, pemantauan tsunami di tengah Selat Sunda baik dengan pemasangan peralatan pemantau (stasiun pasang surut di Pulau sekitar G. Anak Krakatau dan/atau BUOY) maupun pemantauan visual dengan penginderaan jauh, sangat diperlukan.

Hingga saat ini, lanjut PVMBG, erupsi G. Anak Krakatau masih berlangsung menerus. Untuk ituPVMBG mengimbau masyarakat di pesisir barat Banten dan pesisir selatan Lampung agar tetap waspada, dan untuk sementara waktu tidak beraktivitas di wilayah yang terlanda tsunami hingga kondisi memungkinkan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan, hingga Selasa (25/12) pukul 13.00 WIB, korban meninggal akibat bencana tsunami di perairan Selat Sunda telah mencapai 429 jiwa.

“Kemungkinan jumlah korban meninggal bisa bertambah,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan pers di kantor BNPB, Jakarta, Selasa (25/12) siang.

Selain 429 jiwa yang sudah dinyatakan meninggal, Sutopo menjelaskan, sebanyak 1.485 orang luka-luka, 154 dinyatakan hilang, dan 16.082 orang mengungsi akibat bencana tsunami itu.
 

Penulis : Abhivandya AR Ramdani

Editor : Abhivandya AR Ramdani