KABARINDONESIA.ID -- Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak pada operasional Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta (CGK), Tangerang, Banten, Minggu (6/9/2026).
Bandara terbesar di Indonesia itu ditutup sementara setelah hasil pengujian lapangan atau paper test menunjukkan adanya indikasi sebaran abu vulkanik di area bandara.
Penutupan operasional penerbangan dilakukan sejak dini hari dan diperpanjang hingga pukul 09.30 WIB. Kebijakan ini menyebabkan 209 pergerakan penerbangan terganggu dan berdampak langsung terhadap 22.798 penumpang.
Untuk rute domestik, penerbangan menuju Makassar atau UPG menjadi rute dengan dampak terbanyak, yakni 16 pergerakan pesawat.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan penerbangan.
“Direktorat Jenderal Perhubungan Udara prihatin terhadap kejadian erupsi Gunung Anak Krakatau dan terus melakukan pemantauan dan koordinasi intensif bersama dengan operator penerbangan, pengelola bandara, layanan navigasi penerbangan, dan BMKG terhadap dampak aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap operasional penerbangan, khususnya di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta,” ujar Lukman dalam rilis resminya, Minggu (6/9/2026).
Penutupan Diperpanjang Setelah Paper Test Positif
Berdasarkan NOTAM Nomor A3341/26, penutupan awal diputuskan setelah paper test pada Minggu dini hari pukul 00.35 WIB hingga 01.05 WIB menunjukkan hasil positif indikasi paparan abu vulkanik.
Evaluasi lanjutan kemudian dilakukan oleh Stasiun Meteorologi Kelas I Soekarno-Hatta atau Gedung 725 AMOS pada pukul 06.05 WIB hingga 06.35 WIB.
Hasil pengujian kembali menunjukkan indikasi sebaran abu vulkanik masih berada di area bandara. Otoritas kemudian memperpanjang masa penutupan operasional hingga pukul 09.30 WIB melalui NOTAM Nomor A3344/26 NotamR A3341/26.
“Hasil paper test terbaru dari Stasiun Meteorologi Kelas I Soekarno Hatta (Gedung 725 AMOS) pada pukul 06.05 WIB – 06.35 WIB juga menunjukkan hasil positif adanya indikasi sebaran abu vulkanik di area Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta sehingga penutupan bandara diperpanjang hingga Minggu (6/9) pukul 09.30 WIB sesuai NOTAM Nomor A3344/26 NotamR A3341/26,” kata Lukman.
Meski operasional penerbangan dihentikan sementara, Kemenhub memastikan seluruh pesawat yang berada di area apron dalam kondisi aman.
“Saat ini, pihak bandara memastikan bahwa seluruh pesawat yang sedang Remain Over Night berada dalam kondisi aman. Terdapat total 170 pesawat yang disiagakan di area apron dengan rincian: Terminal 1 sebanyak 66 pesawat, Terminal 2 sebanyak 51 pesawat, Terminal 3 sebanyak 49 pesawat, dan kargo sebanyak 4 pesawat,” ungkapnya.
Rute Makassar Paling Terdampak
Berdasarkan pembaruan data operasional per pukul 05.30 WIB, penutupan wilayah udara Bandara Soekarno-Hatta berdampak pada sejumlah rute domestik dan internasional.
Untuk penerbangan domestik, rute menuju Makassar (UPG) mencatat dampak terbanyak dengan total 16 pergerakan pesawat.
Selain Makassar, sejumlah rute domestik lain juga terdampak, antara lain Lampung (TKG), Denpasar (DPS), dan Surabaya (SUB). Beberapa rute tersebut mencatat pembatalan penerbangan dan pengalihan atau divert.
Pada rute internasional, Singapura (SIN) menjadi rute paling terdampak dengan 11 pergerakan pesawat.
Dampak lain juga terjadi pada sejumlah tujuan internasional, seperti Hong Kong (HKG), Sydney (SYD), Seoul/Incheon (ICN), Doha (DOH), Amsterdam (AMS), hingga Kuala Lumpur (KUL).
Di sektor internasional, penanganan status jadwal mencakup 16 penerbangan dibatalkan, 7 penerbangan ditunda, serta 5 penerbangan dijadwalkan ulang.
Kemenhub Waspadai Efek Berantai
Kemenhub menaruh perhatian khusus terhadap potensi efek berantai atau cascading impact akibat penutupan sementara operasional Bandara Soekarno-Hatta.
Dampak berantai itu dapat memengaruhi rotasi pesawat, ketersediaan armada, jadwal penerbangan berikutnya, hingga kapasitas terminal.
“Ditjen Perhubungan Udara memberikan perhatian khusus terhadap pemulihan jadwal penerbangan mengingat adanya potensi dampak berantai (cascading impact) terhadap rotasi pesawat, ketersediaan armada, jadwal penerbangan berikutnya, serta kapasitas terminal. Aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional,” tegas Lukman.
Ia menegaskan, seluruh penyesuaian operasional akan dilakukan secara dinamis mengikuti perkembangan kondisi abu vulkanik serta hasil pemantauan bersama instansi terkait.
Penumpang Diminta Cek Informasi Maskapai
Untuk mencegah penumpukan di area terminal, Ditjen Perhubungan Udara mengimbau calon penumpang tidak terburu-buru datang ke bandara sebelum mendapatkan kepastian dari pihak maskapai.
Penumpang diminta memantau status penerbangan secara berkala melalui kanal resmi maskapai masing-masing.
“Ditjen Perhubungan Udara mengimbau kepada masyarakat atau calon penumpang yang akan melakukan perjalanan melalui Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta agar memantau informasi terbaru dari maskapai terkait status penerbangannya dan memohon agar memperhatikan situasi dengan tidak datang ke bandara terlebih dahulu,” tuturnya.
Kemenhub memastikan aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional penerbangan.
Penutupan sementara bandara dilakukan untuk mengantisipasi risiko abu vulkanik terhadap keselamatan penerbangan, terutama karena abu vulkanik dapat mengganggu visibilitas dan berpotensi membahayakan mesin pesawat.